HUBUNGAN FULL DAY SCHOOL DENGAN TINGKAT RELIGIUSITAS

SISWA 

(Sebuah Study di SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta)

Disarikan Oleh: Machdar R Dahuri (Diambil dari Jurnal UMY 2019 _repository.umy.ac.id)

Fullday School, Siapa Takut?

Sebenarnya telah banyak Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama yang telah menerapkan System Full Day tersebut. Sejauh ini ternyata tidak ada masalah, justru mampu memberikan solusi terbaik bagi sebagian orang tua yang sibuk bekerja. Sekolah-sekolah yang telah menjalankan System Full Day School terbukti semakin berkembang pesat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Contoh saja SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta adalah satu-satunya sekolah dasar Muhammadiyah di kota Yogyakarta yang menerapkan System Full Day School sejak tahun 1998.

Selama ini belum pernah mengalami masalah yang mendasar, apalagi sampai menimbulkan stres bagi anak. Justru sekolah tersebut tetap mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain untuk meraih prestasi akademik maupun non-akademik. Untuk tahun pelajaran 2019/2020 ini siswanya mencapai 565. Jumlah siswa dari tahun ke tahun semakin meningkat menunjukkan animo masyarakat yang tinggi terhadap SD Muhammadiyah Pakel.  Kuota penerimaaan siswa baru setiap tahun hanya 3 kelas karena adanya keterbatasan ruang kelas.

Awalnya sekolah tersebut  melakukan pembelajaran mulai dari Senin-Sabtu dengan waktu pembelajaran kelas I dan II mulai pukul 06:45 s/d 13:00 WIB. Sedangkan Kelas III s/d VI mulai pukul 06:45 s/d 16:00 WIB. Namun sejak tahun pelajaran 2017/2018 menerapkan 5 hari sekolah. Di samping memberlakukan kurikulum nasional, sekolah tersebut juga menerapkan kurikulum Muhammadiyah dan kurikulum sekolah yang di kenal dengan ‘Program Plus’, diantaranya adalah:

  1. Program Qiro’ah Wa Kitabah kelas 1 harus selesai Iqra’ Jilid 6
  2. Program Tahfidz wisuda Juz 30 pada kelas 3 sehingga kelas 6 target minimal hafal 2 juz
  3. Tahsin (Pembagusan bacaan Al Qur’an)
  4. Tarjamah Qur’an dan Do’a
  5. Bahasa Arab dan Inggris dasar
  6. Tehnik Informatika Komputer
  7. Hizbul Wathan
  8. Tapak Suci (Pencak Silat)

Dengan menerapkan System Full Day tersebut maka program pembiasan dan pembinaan dapat dilakukan secara intensif sejak dini, seperti: pembiasaan 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun), pembiasaan sholat sunnah Dhuha, Dhuhur dan Ashar di masjid sekolah, pembiasan kultum dari siswa setelah Jama’ah Dhuhur, pembiasaan infaq Jum’at, pembiasaan bekerjasama saat makan snack dan makan siang, pembiasaan kemandirian melalui kegiatan Mabit (meninap di sekolah sebulan sekali), dan lain-lain.

Agar anak tidak jenuh dengan berbagai kegiatan sehari-hari di sekolah maka diadakan kegiatan penunjang berupa Ekstra Kurikuler dengan banyak pilihan diantaranya; Drumband, Sepak Bola, Robotika, Sains Club, Vokal/Musik, Tari, Seni Baca Al Qur’an, Kaligrafi, Lukis, Batik, Renang dan Jemparingan.

Sebenarnya bagi sebagian kecil sekolahan yang sudah menerapkan System Full Day School menyambut bahagia dengan wacana yang dilontarkan oleh Mendikbud tersebut. Namun perlu kiranya diberikan keleluasaan bagi setiap sekolah untuk mengembangkan potensi anak sesuai kultur setempat, serta Sumber Daya Manusia dan sumber Dana harus dipersiapkan secara matang terlebih dahulu. Sejauh ini System Full Day School cocok untuk kawasan perkotaan yang notabene banyak orang tua sibuk bekerja.

Dan perlu kiranya sekolah-sekolah yang selama ini sudah menerapkan System Full Day School dimotivasi dan didukung penuh agar mampu menunjukkan prestasinya baik di bidang akademik maupun non-akademik. Sehingga, masyarakat luas semakin yakin bahwa System Full Day School adalah pilihan bijak bagi orangtua untuk masa depan anak-anaknya. Hal tersebut ternyata sejalan dengan hasil penelitian dari Bapak Hadi Nuryanto, S.Ag, M.Si, yakni System Full Day School memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat religiusitas anak.

Peneliti: Hadi Nuryanto, S.Ag, M.Si (Kepala Sekolah SD Muh. Sokonandi)

Latar Belakang

Di Kota Yogyakarta ada sekitar 168 Sekolah Dasar, baik  SD Negeri maupun SD Swasta. Data tahun 2016/2017 terdapat 45 SD Swasta Islam, terdiri dari 36 SD Muhammadiyah dan 9 SD Swasta Islam.[1] SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta merupakan Amal Usaha Muhammadiyah di kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pendidikan sepenuh hari (Full Day School) yang dirintis sejak tahun 1998. Pelaksanaan pendidikan di Sekolah Muhammadiyah dan Sekolah Islam terpadu dengan pola full day school nya menjadi upaya yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat religiusitas anak untuk menjawab tantangan permasalahan keagamaan. Namun disisi lain pelaksanaan full day school dikhawatirkan membuat anak mendapatkan tekanan secara psikis dan membebani anak, serta menjadikan kurangnya kehangatan orang tua terhadap anak begitu juga sebaliknya. Sebagai Sekolah dengan sistem full day school yang telah dilaksanakan kurang lebih selama 20 tahun menjadi perhatian peneliti memandang pentingnya penelitian mengenai hubungan full day school terhadap tingkat religiusitas siswa di SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta.

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah lapangan (field research) peneliti menggunakan jenis penelitian campuran/kombinasi (mixed methodology). Mixed method menghasilkan fakta yang lebih komprehensif dalam meneliti masalah penelitian, karena peneliti ini memiliki kebebasan untuk menggunakan semua alat pengumpul data sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan.[2] Sedangkan kuantitatif atau kualitatif hanya terbatas pada jenis alat pengumpul data tertentu saja.

Mixed Methods Research adalah suatu desain penelitian yang didasari asumsi filosofis sebagaimana metoda inkuiri. Mixed methods research juga disebut sebagai sebuah metodologi yang memberikan asumsi filosofis dalam menunjukkan arah atau memberi petunjuk cara pengumpulan data dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa fase proses penelitian.3 Sebagai sebuah metode, mixed methods research berfokus pada pengumpulan dan analisis data serta memadukan antara data kuantitatif dan data kualitatif baik dalam single study (penelitian tunggal) maupun series study (penelitian berseri). Premis sentral yang dijadikan dasar mixed methods research adalah menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menemukan hasil penelitian yang lebih baik dibandingkan jika hanya menggunakan salah satu pendekatan saja misalnya dengan pendekatan kuantitatif saja atau dengan pendekatan kualitatif saja.

Penelitian ini melibatkan siswa kelas VI sebanyak 50 siswa SD Muhammadiyah Pakel Plus Yogyakarta sebagai sampel. Variabel dalam

penelitian ini terdari dari variabel bebas dan terikat. Variabel bebasnya adalah  full day school, sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat religiusitas siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk analisis data kuantitatif menggunakan reduksi data, display dan verifikasi data atau kesimpulan, sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan metode survey explanatory.

Hasil Penelitian

  1. Kegiatan Full Day School

Beberapa hal yang melatarbelakangi munculnya tuntutan full day school antara lain: Pertama, minimnya waktu orang tua dirumah berinteraksi dengan anak dikarenakan kesibukan dari tuntutan pekerjaan. Kedua, meningkatnya single parents dan banyaknya aktifitas orang tua yang kurang memberikan perhatian pengawasan dan keamanan, serta kenyamanan terhadap segala tuntutan kebutuhan anak, terutama bagi anak usia dini. Ketiga, perlunya formulasi jam tambahan keagamaan bagi anak dikarenakan minimnya waktu orang tua bersama anak. Keempat, peningkatan kualitas pendidikan sebagai sebuah alternatif solusi terhadap berbagai permasalahan kemerosotan bangsa, terutama akhlak. Kelima, semakin canggihnya dunia komunikasi, membuat dunia seolah-olah tanpa batas (borderless world) yang dapat mempengaruhi perilaku anak jika tidak mendapat pengawasan dari orang dewasa

Sehingga dari data dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa pelaksanaan full day school di SD Muhammadiyah Pakel Yogyakarta termasuk kategori Baik (73,70%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram berikut ini.

No Kategori Frekuensi Persentase Rata-rata Kategori
1 Kegiatan pembelajaran 148 74.00 73.70 Baik
2 139 69.50
3 160 80.00
4 Libur 145 72.50
5 137 68.50
6 Prestasi Siswa 147 73.50
7 140 70.00
8 160 80.00
9 Peran Guru 136 68.00
10 162 81.00
  1. Tingkat Religiusitas Siswa

Agama merupakan salah satu hal yang dapat menjadi ikatan sangat kuat bagi antar manusia. Agama pulalah salah satu aspek dalam kehidupan yang bersifat sangat sensitif sehingga sangat rentan menimbulkan ketegangan maupun konflik antarumat beragama. Hal ini pula yang terjadi di Indonesia. Sudah sejak lama terjadi konflik antar agama atau yang mengatasnamakan agama bahkan sampai terjadi pembakaran atau pengrusakan tempat-tempat ibadah maupun pembantaian suatu komunitas umat beragama. Meskipun tidak dipungkiri juga bahwa konflik-konflik yang terkenal sebagai konflik atas nama agama tersebut sesungguhnya berawal dengan dilatarbelakangi oleh hal-hal di luar agama. Sesungguhnya perbedaan (agama) sama sekali bukan halangan untuk melakukan kerjasama, bahkan AlQuran menggunakan kata lita`ārafū supaya saling mengenal yang kerap diberi konotasi “saling membantu”. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah mengizinkan delegasi Kristen Najran yang berkunjung ke Madinah. Agama merupakan keyakinan atau kepercayaan yang bersifat immaterial dalam bentuk dan tahap apapun. Keyakinan dan kepercayaan ini disertai dengan serangkaian ajaran, etika dan tradisi. Agama mengandung nilai-nilai yang absolut dan berlaku sepanjang zaman, tidak dipengaruhi oleh waktu, tempat dan keadaan. Pikiran religius muncul dalam konteks kepribadian karena kehadirannya di dunia agama merupakan suatu fakta yang fundamental.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat religiusitas siswa SD Muhammadiyah Pakel Yogyakarta termasuk kategori Tinggi (85,33%). Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel berikut ini

No Kategori Frekuensi Jumlah Rata-rata Kategori
1 Keyakinan 165 82.50 85.33 Baik
2 170 85.00
3 162 81.00
4 157 78.50
5 Ibadah 153 76.50
6 176 88.00
7 185 92.50
8 170 85.00
9 Pengalaman 190 95.00
10 165 82.50
11 185 92.50
12 170 85.00
13 Pengetahuan 163 81.50
14 167 83.50
15 153 76.50
16 176 88.00
17 Pengamalan 185 92.50
18 170 85.00
19 180 90.00
20 171 85.50
  1. Analisis Hubungan Full Day School dengan Tingkat Religiusitas Siswa

Analisa data merupakan bagian penting dalam metode ilmiah untuk memberi arti dan makna dalam menjawab dalam masalah penelitian. Langkah awal dalam menganalisa data adalah proses kuantifikasi data atau memberi nilai terhadap jawaban angket, mengenai Full Day School (variabel X) dan tingkat religiusitas (variable Y).

Untuk menganalisis dengan SPSS kita lihat hasil output kita tadi pada gambar “Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual” adalah sebagai berikut:

Gambar 4.1 Normal P-P Plot

Dari analisis kurva dapat dilihat bahwa data menyebar di sekitar diagram dan mengikuti model regresi sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diolah merupakan data yang berdistribusi normal sehingga uji normalitas terpenuhi. Kemudian dilakukan uji korelasi. Berdasarkan hasil analisis SPSS diketahui nilai korelasi adalah 0,377 atau terdapat hubungan

37,7% antara Full Day School (variabel X) dan tingkat religiusitas

(variable Y). Hal ini diketahui dari hasil output SPSS sebagai berikut:

Correlations

X Y
X

Y

Pearson Correlation 1 .377**
Sig. (2-tailed) .007
N

Pearson Correlation

5 0 50
.377** 1
Sig. (2-tailed) .007
N 5 0 50

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi a = 5%. (uji dilakukan 2 sisi karena untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan, jika 1 sisi digunakan untuk mengetahui hubungan lebih kecil atau lebih besar). Tingkat signifikansi dalam hal ini berarti kita mengambil risiko salah dalam mengambil keputusan untuk menolak hipotesa yang benar sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 5% atau 0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan dalam penelitian).

Oleh karena nilai Signifikansi (0,004 < 0,05) maka Ho ditolak, artinya bahwa ada hubungan secara signifikan Full Day School (variabel X) dan tingkat religiusitas (variable Y). Karena koefisien korelasi nilainya positif, maka berarti Full Day School (variabel X) berhubungan positif dan signifikan terhadap tingkat religiusitas (variable Y). Jadi dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa Full Day School (variabel X) berhubungan positif terhadap tingkat religiusitas (variable Y).

Kesimpulan

Darihasil kajian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan kegiatan full day school di SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta yang meliputi kegiatan pembelajaran termasuk kategori Baik (73,67%), motivasi siswa berlibur termasuk kategori Baik (70,50%), prestasi siswa termasuk kategori Baik (74,50%), dan peran guru termasuk kategori Baik (74,50%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan full day school di SD Muhammadiyah Pakel Yogyakarta termasuk kategori Baik (73,70%).
  2. Tingkat religiusitas siswa meliputi aspek keyakinan termasuk kategori Tinggi (81,75%), aspek ritual termasuk kategori Tinggi (72,00%), aspek pengalaman termasuk kategori Sangat Tinggi (88,75%), aspek pengetahuan termasuk kategori Tinggi (82,38%) dan aspek pengamalan termasuk kategori Sangat Tinggi (88,25%). Sehingga secara kesimpulan tingkat religiusitas siswa di SD Muhammadiyah Pakel Yogyakarta termasuk kategori ‘Tinggi’ (85,33%).
  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas kegiatan full day school dengan  tingkat religiusitas siswa kelas VI di SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta. Hal tersebut tampak dari hasil penghitungan korelasi sebesar 0,377. Dilihat dari indeks korelasi tersebut maka tingkat korelasi antara dua variable adalah korelasi yang rendah.

Daftar Pustaka

Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Kepribadian Muslim,(Bandung: Sinar Baru, 2001)

Addin Arsyanda, “Penerapan Sistem Full Day School dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pendidikan di MI Al-Qamar Bagor, Nganjuk” dalam Jurnal Realita Volume 15, No. 1 Tahun 2017

Agus Eko Sujianto, Penerapan Full Day School dalam Lembaga Pendidikan

Islam, Jurnal Pendidikan Ta’allim, Vol 2, No. 28, Nopember 2005

Akdon, Strategic management for Educational Management (Bandung: Alfabeta, 2006)

Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2004)

Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.

Bobbi Departer, Mark Reardon & Sarah Singger Naurie, Quantum Teaching (Mempraktekan Quantum Teaching Di Ruang Kelas-Kelas), Bandung: Kaifa, 2004

Creswell, John W., Research Design; Pendekatan Kualitatif, Kuantatif dan Mixed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014

Djamaludin Ancok dan Suroso, Psikologi Islami, Solusi Islam atas ProblemProblem Psikologi, (Yogyakarta: Psutaka Pelajar, 1995)

Ida Nurhayati dkk, Penerapan Sistem Pembelajaran  “Fun & Full Day School” untuk Meningkatkan Religiusitas Peserta Didik di SDIT Al-Islam Kudus, Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 2, No. 2, edisi April 2014

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016)

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1996

Lis Yulianti Syafrida Siregar, “Full Day School Sebagai Penguatan Pendidikan

Karakter (Perspektif Psikologi Pendidikan Islam)” dalam Fikrotuna: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam, Volume. 05, No. 02 Juli 2017

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)

Nor Hasan, Full Day Scholl (Model Alternatif Pembelajaran Bahasa Asing), Jurnal Pendidikan Tadris, Vo. 1, No. 1, Tahun 2006

Nur Hidayah, “Kesiapan Sekolah dalam Implementasi Program Full Day School

(FDS) SD Muhammadiyah di Kota Yogyakarta”, dalam JURNAL JPSD Vol. 4 No. 1 Tahun 2017

Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013)

Subandi, Psikologi Agama dan Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013)

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfa Beta, 2007)

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995)

Wiwik Sulistyaningsih, Full Day School dan Optimalisasi Perkembangan Anak, Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2008

Zaitur Rahem, “Dampak Sosial Pemberlakuan Full Day School (Menimbang

Mafsadat-Maslahat Permendikbud 23/2017 dan Perpres 87/2017)”, dalam Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, Volume 3, Nomor 1, Desember 2017

 

[1] Sumber Data Primer : Data Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta tahun 2015

[2] John W. Creswell, Research Design; Pendekatan Kualitatif, Kuantatif dan Mixed,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014, hlm. 5.3    

Moh. Nasir, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999, hlm. 63.“