Kepala Sekolah, Bunda Menik Kamriana nyanyi bareng di atas panggung Milad ke-52 SD MP3

Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah

Oleh: Machdar R Dahuri, M.Pd.I

PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN BAGI ANAK

1. Filosofi Pembinaan Mental Keagamaan

Perkembangan agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, di sekolah serta dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk pengalaman yang bersifat religius sesuai dengan ajaran agama  yang dianutnya) karena semakin banyak unsur agama, maka sikap dan perilaku serta caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agamanya.

Setiap orang tua dan guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal.[1]

Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui pengamatan, pendengaran, maupun perilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya. Dengan kata lain pengalaman beragama anak hendaknya diperhatikan sedini mungkin dengan mencarikan tempat belajar yang sesuai harapan.[2]

Masa pendidikan di sekolah dasar merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang tua. SD merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental keagamaan anak. Apabila pembinaan mental keagamaan anak terbina dengan baik, maka ketika anak akan memasuki usia remaja dapat dengan mudah diarahkan kepada kebaikan tanpa mengalami kesulitan.

Anak-anak akan bersifat sopan dan hormat kepada orang tua, guru maupun  orang lain seperti halnya sikap orang tua kepada mereka. Jika mereka dibesarkan pada lingkungan rumah di mana mereka diperlakukan dengan penuh kewibawaankebaikan hati dan rasa hormat, akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa begitulah cara mereka harus memperlakukan orang lain.

Peran Agama Bagi Anak

Pendidikan agama Islam diharapkan mampu mensucikan jiwa dan mendidik hati nurani serta mental keagamaan anak-anak dengan kelakuan yang baik serta mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Pendidikan agama Islam memelihara anak-anak supaya melalui jalan yang lurus dan tidak menuruti hawa nafsu yang menyebabkan nantinya jatuh ke lembah kehinaan dan kerusakan serta merusak kesehatan mental anak.

Salah satu timbulnya krisis akhlak yang terjadi dalam masyarakat adalah karena lemahnya pengawasan baik dari orang tua, sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga respon anak terhadap agama kurang.[3] Pembinaan mental keagamaan dapat ditempuh dengan berbagai cara, diantaranya melalui pengajaran sebagai upaya pendekatan teoritis dalam upaya memperbaiki anak. Di samping itu juga dapat melalui pembiasaan sebagai pratek nyata dalam proses pembentukan pribadi yang baik.[4]

Program pengajaran agama di SD dapat dipandang sebagai suatu usaha mengubah tingkah laku siswa dengan menggunakan bahan pengajaran agama.[5] Oleh karena itu keberhasilan pendidikan tidak cukup apabila hanya diukur dari tingkat segi kognitifnya semata. SD sebagai lingkungan sekunder diharapkan dapat memberi pengaruh positif terhadap perkembangan jiwa siswa, karena fungsi sekolah di samping mengajarkan berbagai keterampilan dan kepandaian kepada siswanya juga mengajarkan nilai-nilai agama serta norma yang berlaku di masyarakat.[6]

Salah satu kelompok dalam ruang lingkup sekolah yang menjadi sasaran pembinaan tersebut adalah siswa. Kepala sekolah dan guru dituntut untuk mampu menanamkan nilai diantaranya adalah: 1)  Mental, yakni berkaitan dengan sikap batin dan watak manusia. 2) Moral, berkaitan dengan baik dan buruknya perbuatan. 3) Fisik, berhubungan dengan organ jasmani yang terkait masalah kesehatan serta penampilan secara lahiriyah. 4) Artistik, berhubungan dengan kepekaan manusia terhadap keindahan.[7]

Peran Guru Bagi Anak Dalam Memahami Agama

Guru, dalam hal ini guru agama hendaknya selalu menyadari bahwa anak-anak usia sekolah dasar sedang dalam masa pertumbuhan dan memiliki daya pikir yang relatif lebih cepat serta daya khayalnya tinggi. Pada usia tersebut anak juga belum mampu berpikir abstrak sehingga pengajaran agama perlu diberikan dalam batas kemampuannya, yakni yang menyangkut kehidupan nyata. Maka guru agama harus mendekatkan ajaran agama terhadap anak setiap waktu, misalnya mendekatkan pada Allah dengan menunjukkan sifat pengasih dan penyayangNya Allah. Guru selalu menampilkan sikap kasih dan sayangnya seperti menolong sesama dan saling menghormati.[8]

Siswa yang telah mendapatkan pendidikan di sekolah seharusnya semakin berubah lebih baik perilakunya namun kenyataan yang ada di lapangan sangat berbeda. Adanya siswa kurang disiplin ketika datang ke sekolah, masih ada yang berbicara kotor, kurang hormat terhadap guru serta kurang solidaritas terhadap teman.[9] Selain itu belum nampak adanya ketertiban budaya disiplin dalam shalat berjamaah di sekolah.[10]

Dari kenyataan sikap dan perilaku yang muncul di atas, maka perlu adanya pembinaan mental keagamaan agar siswa dapat memiliki jiwa yang kuat sehingga dapat menjalankan perintah agama dengan baik dan benar. Mereka dapat menghayati, menguasai secara mendalam tentang nilai-nilai agama Islam tersebut tidak hanya menjadi pngetahuan semata, namun dapat mewarnai jiwa mereka sehingga menjadi sebuah kepribadian yang Islami. Semua itu tentunya dapat tercapai apabila kepala sekolah sebagai pemimpin dan pemangku kebijakan memiliki strategi yang tepat dalam pembinaan mental keagamaan bagi siswanya.

Sistem Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam

Islam telah memberikan sistem nilai yang dikehendaki oleh Allah SWT dan harus diimplementasikan dalam amal setiap perilaku hamba-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Sistem nilai yang dimaksud merupakan suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait, saling mempengaruhi satu sama lain dan bekerja dalam satu keterpaduan yang berorientasi pada nilai Islami dan akhlak mulia.

Mengingat bahwa pendidikan merupakan proses pembinaan manusia, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual, yakni hasil dari pendidikan tersebut akan menjadi suatu hal yang sangat berpengaruh pada masa depan peserta didik, negara, bangsa bahkan agama. Oleh karena itu pendidikan harus dilaksanakan secara sistematis, terprogram dan terpadu guna mewujudkan tujuan atau orientasi pendidikan Islam.

Nilai tanggung jawab kemasyarakatan dapat diterapkan melalui melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan keji dan tercela, memperat hubungan kerja sama dengan cara menghidarkan diri dari perbuatan yang dapat mengarah kepada rusaknya hubungan sosial, menggalakkan perbuatan yang terpuji dan memberi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat, seperti memaafkan kesalahan, menepati janji, memperbaiki hubungan antar manusia, serta membina hubungan sesuai dengan tata tertib, seperti berlaku sopan, meminta izin ketika masuk rumah, dan sebagainya.

Untuk cinta dan tanggung jawab kebangsaan dan nasionalisme, nilai yang perlu diinternalisasikan adalah musyawarah, adil, jujur, dan tanggung jawab serta kewajiban mentaati aturan dan patuh kepada pemimpin.

Dimensi kecerdasan yang membawa pada kemajuan, seperti kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, professional, kreatif dan produktif. Tegasnya dimensi kecerdasan ini akan berimplikasi pada pemahaman nilai-nilai pendidikan agama islam yang lainnya.[11]

Nilai-nilai yang telah disebutkan tersebut, tentu hanya menjadi sebagian deretan nilai yang perlu diinternalisasikan kepada peserta didik, karena masih dapat ditambah deretan nilai pendidikan agama Islam lainnya. Namun, setidaknya nilai-nilai pendidikan agama Islam yang telah disebutkan diatas, kiranya dapat membantu dalam mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan agama Islam yang patut untuk ditanamkan kepada peserta didik melalui pendidikan di sekolah, dengan didukung usaha dari orang tua serta lingkungan masyarakat untuk membentuk manusia yang berjiwa agama.

Program pengajaran agama dapat dipandang sebagai suatu usaha mengubah tingkah laku peserta didik dengan menggunakan bahan pengajaran agama.[12] Oleh karena itu, keberhasilan  pendidikan tidak cukup apabila hanya diukur dari tingkat penguasaan materi peserta didik atau dari segi kognitifnya semata. Justru yang lebih penting dalam pendidikan Islam, adalah sejauh mana nilai agama tertanam dalam jiwa peserta didik yang diwujudkan nyata dalam dalam perilaku sehari-hari.

Kerangka Teoritik

1. Mental Keagamaan

Pengertian Mental Keagamaan

Mental adalah sesuatu yang menyangkut batin, watak manusia, yang bukan bersifat badan dan tenaga. Mental sering digunakan sebagai personality (kepribadian) yang berarti semua unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan, atau menyenangkan.[13]

Dengan kata lain bahwa mental merupakan benda abstrak yang tidak dapat dilihat secara kasat mata sehingga hanya dapat diketahui dari gejala-gejala tingkah laku lahiriyah seseorang saja.

Sedangkan keagamaan adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan agama.[14] Agama yang dimaksud dalam pembinaan ini adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisi ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan yang dibawa demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat bagi pengikutnya.

Maka dari pengertian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa mental keagamaan adalah semua unsur jiwa yang menentukan perilaku manusia dalam menghadapi permasalahan hidup dengan didasarkan pada nilai-nilai agama, yakni dalam hal ini berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.

Aspek-aspek Mental Keagamaan

Nilai pendidikan agama Islam perlu ditanamkan kepada siswa sehingga terbina mental keagamaan yang kuat. Siswa di dalam pembelajaran, terdapat perbedaan antara satu siswa dengan siswa yang lain. Perbedaan tersebut bisa dalam bentuk perbedaan inteligensi, emosional, sosial, kepribadian, dan moral. Aspek-aspek mental tersebut menjadi fokus dari setiap kegiatan pembelajaran.

Adapun aspek-aspek mental tersebut dapat diklasifikasi sebagai berikut:

  • Inteligensi

Intelegensi adalah suatu kecakapan seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efesien.[15]  Adapun aspek-aspek inteligensi yang dimiliki oleh setiap individu yaitu; a) Kepekaan dan kemapuan untuk mengamati pola-pola logis dan numeric (bilangan) serta kemampuan untuk berpikir secara rasional; b) Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata dan keragaman fungsi bahasa; c) Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme nada dan bentuk ekspresi musik; d) Kemampuan mengekspresi dunia ruang visual secara akurat dan melakukan transformasi persepsi; e) Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara trampil; f) Kemampuan untuk mengamati dan merespon suara hati, tempramen dan motivasi orang lain; g) Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta intelegensi sendiri.

  • Aspek emosi

Emosi pada dasarnya adalah cinta, kegembiraan, keinginan, benci sedih dan kagum terhadap sesuatu.[16] Emosi tersebut dapat mempengaruhi perilaku siswa berupa; a) Memperkuat semangat apabila seseorang merasa senang atau puas terhadap hasil yang telah dicapai; b) melemahkan semangat apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini adalah timbulnya rasa frustasi; c) menghambat dan mengganggu konsentrasi belajar apabila sedang mengalami ketegangan emosi yang bisa menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara; d) terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati; e) suasana emosi yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikap dikemudian hari baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

  • Aspek sosial

Perkembangan sosial dapat dimaknai sebagai pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Aspek sosial sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma kelompok, moral dan tradisi untuk meleburkan diri menjadi sesuatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerjasama.[17]

Pembelajaran yang berlangsung di sekolah sebagai alat dan media paling strategis untuk menanamkan dan menguatkan potensi sosial siswa. Siswa dilatih untuk bekerja sama dengan teman-temannya saling memberikan dan menerima masukan. Hal tersebut sangat baik untuk menanamkan saling pengertian di antara siswa terhadap siswa lainnya. Dengan demikian siswa dapat menekan dan mengurangi egoisme pribadi yang dapat merugikan dirinya dan orang lain di lingkungan sekitarnya.

  • Aspek kepribadian

Kepribadian artinya organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian diri yang unik terhadap lingkungan.[18] Adapun kepribadian yang baik pada diri seseorang atau siswa yaitu; a) mampu menilai dirinya secara realistik yaitu siswa dapat menilai diri sebagaimana apa adanya, baik kelebihan maupun kekurangannya baik yang berhubungan dengan fisik maupun dengan psikisnya; b) mampu menilai situasi secara realistik; c) mampu menilai prestasi secara realistik, d) menerima tanggung jawab; e) kemandirian; f) dapat mengontrol emosi; g) beraktivitas yang selalu berorientasi tujuan; h) penerimaan sosial; i) memiliki filsafat hidup; j) dapat merasakan kebahagiaan.

  • Aspek moral

Moral berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara kehidupan. Nilai-nilai moral dapat pula berupa seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memlihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan hak orang lain.

Sedangkan menurut Hamdan Bakran Adz Dzaky dalam buku Konseling dan Psikoterapi Islam, bahwa dalam kaitannya pembinaan mental keagamaan meliputi tiga aspek, yaitu:[19]

  • Aspek Spiritualitas

Spiritual adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan ruh, semangat, religius atau rasa keberagamaan, keimanan, keshalehan serta yang menyangkut nilai-nilai transendental atau nilai-nilai Ilahiyah.[20] Kunci pembinaan terletak pada mentalnya seseorang yang merupakan pengendali watak kepribadiannya. Pembinaan mental harus dilandasi dengan nilai-nilai yang mutlak (pasti) yang tidak berubah-ubah oleh perkembangan masa dan keadaan, yaitu agama Islam.

Apabila sesorang tidak terbiasa mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, seperti shalat, zakat, puasa, membaca Al Qur’an dan berdoa dalam kehidupan sehari-hari, maka pada akhirnya cenderung tidak akan merasakan pentingnya agama. Namun akan tetapi jika sedini mungkin dibina dan diarahkan pada pengamalan ajaran agama dengan baik melalui latihan dan pembiasaan, maka akan merasakan butuh terhadap agama.[21]

  • Aspek Moralitas

Aspek moralitas memperhatikan masalah nilai kesopanan, adab, etika dan tata krama baik dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia maupun dengan alam. Moralitas merupakan aturan, kaidah baik dan buruk, simpati atas fenomena kehidupan dan penghidupan orang lain, dan keadilan dalam bertindak. Manusia bermoral berarti manusia yang menjadi pribadi yang utuh secara jasmani dan rohani, serta mengetahui bagaimana seharusnya dia bertindak untuk menjadi pribadi yang ideal di mata masyarakat.

Dengan demikian, tingkah laku yang bijak atau arif akan membawa seseorang ke dalam kehidupan yang baik sebagai individu atau anggota masyarakat tempat dia berada. Mereka ini adalah orang-orang yang keseharian hidupnya bermaslahat bagi individu dan anggota masyarakat pada umumnya.[22]

  • Aspek Keilmuan dan Ketrampilan

Aspek ini menjelaskan adanya hubungan antara keilmuan seseorang dengan ketrampilan yang dimiliki. Keilmuan di sini lebih mengarah pada hal-hal yang berkaitan masalah kognitif sedangkan ketrampilan adalah tingkat kepekaan seseorang dengan lingkungan sosialnya sehingga mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.

Dari beberapa aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembinaan dilangsungkan untuk kepentingan siswa. Siswa dengan dibina dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan juga dapat meluaskan analisis serta pemaknaan terhadap masalah-masalah yang muncul dalam keberagamaannya. Karena itu sentuhan yang paling utama dalam kegiatan pembinaan mental keagamaan tersebut adalah aspek-aspek psikologis yang meliputi intelegensi, emosi, sosial, kepribadian dan moral. Aspek-aspek kejiwaan tersebut akan mengalami perubahan dalam pembelajaran secara simultan dan sinergitas.

Penulis merumuskan indikator bahwa siswa dapat dikatakan mental keagamaannya sangat tinggi atau kuat apabila mereka mampu menunjukkan sikap yang baik sesuai dengan tuntunan ajaran agama dalam perilakunya sehari-hari di sekolah. Perilaku tersebut tertuang dalam tiga aspek yaitu: Pertama, aspek spiritualitas meliputi semangat dalam beribadah, seperti rajin shalat, baca Al Qur’an, bedzikir dan berdoa.

Kedua, aspek moralitas yang terwujud dalam sikap hormat kepada guru, disiplin, jujur, tidak berbicara kotor serta menjaga kebersihan. Ketiga, aspek sosial yang terwujud dalam sikap menepati janji, bertanggung jawab, saling menyayangi serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jadi apabila ada siswa yang belum memenuhi pencapaian sesuai dengan indikator tersebut, maka bisa dikatakan mental keagamaannya rendah.

2. Pembinaan Mental Keagamaan

Pembinaan berasal dari kata “bina” yang berarti bangun, kemudian mendapat imbuhan “pe” dan “an” menjadi pembinaan yang memiliki arti membangun.[23] Maka dengan kata lain pembinaan merupakan usaha untuk membangun yang berarti melakukan tindakan untuk menuju ke arah yang lebih baik.

Mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Keserasian dari semuanya itu berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat.[24]

Jadi pembinaan mental keagamaan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengalaman atau pelaksanaan ajaran agama Islam agar mencapai kesempurnaan. Pembinaan mental keagamaan juga merupakan pendidikan Islam yang sama dengan membimbing dan mendidik siswa ke arah yang lebih baik. Peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diarahkan melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai spiritual, moral dan etik agama, sehingga terbentuk sikap batin dan sikap lahir yang setia.[25]

Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pembinaan mental keagamaan adalah sebuah usaha untuk membangun sikap yang muncul dari jiwa atau diri anak untuk diarahkan kepada hal-hal yang positif sehingga mental tersebut menjadi kuat dan membentuk pribadi yang berakhlak mulia.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Mental Keagamaan

Faktor internal merupakan faktor yang terdapat pada diri sendiri, sepertiketidak sempurnaan jasmani, sifat, watak dan bakat yang dimilikinya. Ketidak sempurnaan yang dimiliki dapat menimbulkan hambatan dan pergaulan seorang anak, misalnya seperti rendah diri, iri hati dan kompensasi. Ketiga hal tersebut memerlukan perhatian dan bimbinganseperti kompensasi yang diarahkan dapat berubah menjadi positif karenakekurangan pada dirinya dan dapat berubah menjadi positif karenakekurangan pada dirinya dan diimbangi dengan prestasi dibidang lain. Akan tetapi bila tidak tersalur, rendah diripun dapat menimbulkanketakutan untuk bergaul dan iri dapat menimbulkan dendam sedangkan kompensasi berupa kekayaan dan kesombongan.

Faktor eksternal merupakan faktor yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan di mana seorang anak tumbuh dan dibesarkan. Yang termasuk faktor eksternal ini adalah lingkungan keluarga, sekolah, teman bergaul, norma-norma yang ada di lingkungan masyarakat, dan lain-lain. Adapun faktor-faktor yang memepengaruhi dalam pembinaan mental keagamaan siswa yang bersifat eksternal adalah sebagai berikut:[26]

Pendidikan di lingkungan keluarga

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama, karena dalam keluarga pertama kali mendapat pendidikan. Pendidikan dilingkungan keluarga hendaknya dilakukan dengan cara:

  • Menanamkan ketaqwaan sejak kecil.

Cara menanamkan jiwa taqwa dan iman yang akan menjadipenggali dalam kehidupan si anak dikemudian hari, hendaklahsesuai dengan perkembangan dan cita-cita khas usia anak. Dari hal tersebut di atas jelas bahwa keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembinaan mental anak, oleh karena itulah ditanamkan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran agama di dalam jiwanya mulai sejak kecil. Hal ini membawa pengaruh yang lebih besar dan akan menentukan kehidupannya nanti. Karena pengalamannya yang diperoleh sejak kecil tersebut akan membentuk kepribadian di masa remaja atau dewasa nanti.

  • Orang tua memberikan keteladanan yang baik dalam segala aspek kehidupan.
  • Orang tua harus memperhatikan pendidikan anak.[27]

Pendidikan di lingkungan sekolah

Sekolah adalah lingkungan kedua tempat anak berlatih danmenumbuh kembangkan hidup didalam keluarga transisi dari rumah kesekolah perlu mendapat situasi belajar, dimana kebutuhan kasih sayangrasa aman sehingga kehidupan sekolah bukan hal yang menakutkan bagianak. Keadaan sekolah sangat mempengaruhi anak didik, karena itusekolah merupakan wadah untuk memperoleh pendidikan melalui pembinaan baik secara formal dan juga mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik.

Lingkungan sekolah meliputi guru dengan kepribadian masing-masingyang turut mempengaruhi perkembangan anak. Tanpa didasari seorangguru dengan cara-cara mengajar, sikap dan perkembangannya tidak sajamempengaruhi perkembangan intelektual tetapi seluruh perkembangananak.Dengan demikian kepribadian seorang guru sangat mempengaruhiperkembangan anak didik. Disinilah sekolah harus membina mental anak yang sedang tumbuh dan berkembang.

Pendidikan di lingkungan masyarakat

Lingkungan akan memberikan pengaruh yang positif dan negativeterhadap perkembangan jiwa anak, lingkungan mendatangkan positif bilalingkungan disekitar anak tinggal dapat memberikan motivasi danrangsangan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi kehidupan bersama. Begitu juga sebaliknya lingkungan dikatakan negatif bila keadaan sekitarnya tidak memberikan dorongan atau pengaruh yang positif dan dapat merugikan anak. Baik yang merugikan pendidikan, perkembangan anak itu sendiri maupun yang merugikan bersama.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan tempat tinggal anak itu akan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap pembentukan akhlak dan pembentukan kepribadian.

4. Tujuan Pembinaan Mental Keagamaan

Pembinaan mental keagamaan bertujuan untuk membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Adapun secara rinci tujuan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tenang, damai (muthmainnah), bersikap lapang dada (radhiyah), dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyah).
  2. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lngkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial, dan alam sekitarnya.
  3. Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong menolong, dan rasa kasih sayang.
  4. Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu, sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala perintahNya, serta ketabahan menerima ujianNya.[28]

5. Strategi Pembinaan Mental Keagamaan

Seorang pemimpin akan efektif dalam melaksanakan tugasnya jika dia memiliki kemampuan manajerial yang memadai. Dalam rangka pembinaan mental keagamaan siswa di sekolah tidaklah cukup hanya mempunyai pengaruh saja, sebab dalam praktek banyak hal yang harus dilakukan terutama dalam pengambilan keputusan yang harus didukung oleh kemampuan manajerial.

Ada beberapa langkah dalam menerapkan strategi pembinaan mental keagamaan siswa, yaitu sebagai berikut:

  1. Menyusun perencanaan. Perencanaan ini meliputi membuat aturan dan prosedur dan menentukan konsekuensi untuk aturan yang dilanggar.
  2. Mengajari siswa bagaimana mengikuti aturan. Dalam hal ini, baik kepala sekolah maupun guru harus melakukan analisis secara langsung terhadap sikap dan perilaku siswa dalam aktivitas apapun di sekolah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Mempelajari pengalaman siswa di sekolah melalui kartu catatan kumulatif maupun daftar hadir di kelas.
  • Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.
  • Dalam memberikan tugas harus bersifat jelas, sederhana dan mudah dipahami oleh siswa.
  • Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh siswa dan lingkungannya.[29]
  1. Melakukan tindakan pencegahan masalah dari semua kejadian.
  2. Merespon secara tepat dan konstruktif ketika masalah timbul.
  3. Memonitoring kegiatan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk menghimpun informasi atau data secara terus menerus agar tingkat kemajuan dan perkembangan siswa tetap dapat diikuti secara optimal.[30]

6. Metode Pembinaan Mental Keagamaan

Pada dasarnya, metode pendidikan agama Islam sangat efektif dalam membina mental keagamaan siswa guna memotivasi serta membuka hati manusia untuk menerima dan menghayati nilai agama.[31]

Adapun metode yang dapat digunakan dalam pembinaan mental keagamaan siswa adalah sebagai berikut:[32]

  1. Pembinaan dengan keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan adalah suatu metode yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh dalam pandangan anak dan akan ditiru dalam tindak tanduknya, baik disadari ataupun tidak dalam ucapan atau perbuatan baik yang bersifat material, inderawi atau spiritual karena keteladanan merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya anak didik.

Keteladanan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembinaan mental keagamaan, terutama kemandirian dan disiplin pada siswa. Sebab mereka suka meniru orang yang mereka lihat baik tindakan maupun budi pekertinya, karena itu pembinaan kemandirian dan disiplin melalui keteladanan dapat menjadi sebuah metode yang jitu.

  1. Pembinaan dengan pembiasaan

Pengajaran merupakan pendekatan melalui aspek teoritis dalam upaya memperbaiki anak, sedangkan pembiasaan adalah segi praktek nyata dalam proses pembentukan dan persiapannya. Pengajaran, pembiasaan dan latihan merupakan penunjang pokok pendidikan dan sarana dalam upaya menumbuhkan keimanannya dan meluruskan moralnya sehingga mental keagamaannya kuat.

Untuk membina agar anak memiliki sifat-sifat terpuji tidaklah cukup dengan memberikan pengertian kepada mereka saja melainkan menrapkan pembiasaan melakukan kebaikan sehingga sifat-sifat terpuji yang telah dibiasakan tersebut akan terpatri dalam jiwanya. Dengan demikian secara perlahan dia akan meninggalkan sifat-sifat tercela.[33]

Pembiasaan yang menyangkut perilaku, maka akan lebih mengena bila dimulai dengan latihan. Latihan keagamaan yang terkait dengan akhlak dan ibadah sosial jauh lebih penting daripada sekedar penjelasan melalui kata-kata. Apabila anak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah muamalah seperti shalat, puasa, membaca Al Qur’an serta berdoa, maka secara perlahan akan berdampak pada perilaku kesehariannya sampai beranjak dewasa.[34]

Suatu perilaku yang ingin dibentuk menjadi kebiasaan, setidaknya harus melalui dua tahapan, yaitu perasaan bersungguh-sungguh kemudian mengulangi perbuatan yang baik tersebut sampai menjadi kebiasaan yang tertanam dalam jiwa sehingga jiwa tersebut merasa mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam melakukannya.[35]

Perlu diketahui bahwa pembiasaan terhadap aktivitas keagamaan di sekolah membuat siswa tertarik sebab mereka merasa senang mengikutinya bersama dengan teman-temannya. Siswa merasa mendapatkan pengalaman baru tanpa merasa terbebani karena melaksanakan ajaran agama secara bersama-sama, seperti shalat berjamaah dan berdoa bersama. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa metode pembiasaan sangat perlu dan harus dilakukan oleh guru terhadap anak usia sekolah dasar.

  1. Pembinaan dengan nasihat

Memberi nasihat maksudnya ialah mengingatkan pada sesuatu yang melembutkan hati seperti pada pahala dan siksa supaya yang diingatkan itu mendapat pelajaran. Nasihat itu biasanya berupa aturan-aturan, sambil menyebutkan hukum, janji dan ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang yang yakin kepada Allah dan kepada pahala di akhirat.

Nasihat merupakan metode paling efektif untuk mendidik anak dalam upaya membentuk keimanan anak, mempersiapkannya secara moral, psikis, sosial serta mengajarinya prinsip-prinsip tentang Islam.

Supaya nasihat dapat terlaksana dengan baik, maka dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  • Gunakan kata dan bahasa yang baik, sopan serta mudah dipahami.
  • Hindari perkataan yang menyinggung perasaan orang yang dinasihati atau orang di
  • Perhatikan saat yang tepat dalam menasihati, yakni tidak menasihati ketika kita atau yang dinasihati dalam keadaan marah. d) Usahakan ketika memberi nasihat tidak didepan orang banyak kecuali ketika pengajian atau ceramah.
  1. Pembinaan dengan hadiah dan hukuman

Pembinaan mental keagamaan sebaiknya dilengkapi dengan metode pahala dan sanksi atau janji dan ancaman atau dengan kata lain hadiah dan hukuman. Pahala dalam Islam mulanya bertujuan menumbuhkan kesadaran atas motivasi iman sehingga dapat memperbaharui niat dan pelaksanaannya. Sedangkan sanksi bertujuan agar manusia mematuhi berbagai aturan yang telah ditentukan, dan mengingatkannya kepada dosa yang telah dilakukan agar segera dihentikan dan disesalinya.[36]

Metode yang diterapkan Islam dalam memberi sanksi terhadap anak, antara lain:

  • Menasihati anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang (tanpa kekerasan).
  • Memberi sanksi kepada anak yang salah.
  • Mengatasi dengan bertahap dari yang ringan sampai yang berat.

Penerapan metode ganjaran yang berbentuk hadiah, di antaranya adalah memanggil dengan panggilan kesayangan, memberikan pujian, memberikan maaf atas kesalahan mereka, mengeluarkan perkataan yang baik, bermain atau bercanda, menyambutnya dengan ramah dan lain-lain.

Sedangkan aplikasi ganjaran yang berbentuk hukuman, di antaranya dengan melakukan pandangan yang sinis, memuji orang lain di hadapannya, tidak mempedulikannya, memberikan ancaman yang positif dan menjewernya sebagai alternatif terakhir.[37]

  1. Pembinaan dengan pengawasan

Pendidikan yang disertai dengan pengawasan yaitu mendampingi siswa dalam upaya membentuk akidah dan moral. Islam dengan peraturan-peraturannya mendorong para orang tua serta pendidik untuk selalu mengawasi dan mengontrol anak-anaknya dalam setiap segi kehidupan dan setiap aspek kependidikan.

 


 

[1] Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 43.

[2] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2003), hlm. 66.

[3] Zakiah  Daradjat, Peranan Agama dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1989), hlm. 72.

[4] Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam: Mengembangkan Kepribadian Anak, (Bandung: Remaja Roda Karya, 1990), hlm. 49.

[5]  Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 196.

[6]  Sarlito W. Sarwono, Psikologi Remaja, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994 ), hlm. 150.

[7] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Grafindo Persada, 2005), hlm. 122-132.

[8] Zakiah Daradjat, Ilmu…, hlm. 72.

[9] Hasil observasi pada hari Senin-Rabu, 26-28 Agustus 2013 di SD Muhammadiyah Pakel Program Plus Yogyakarta.

[10] Hasil observasi pada hari Selasa-Rabu, 1-2 Oktober 2013 di SD Negeri KOtagede III Yogyakarta pada pukul: 12.00 WIB.

[11]  Said Agil Husin Al Munawar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem,Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press, 2005), hal. 7- 10.

[12]  Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal. 196.

[13] Zakiah Daradjat. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 38-39.

[14] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Ed. II; Jakarta: Balai Pustaka, 2005). 12.

[15] Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan, cet XI, (Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press, 2004), hlm.237

[16] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, cet II, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hlm. 55

[17] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, cet III, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 122.

[18]  Ahmad Fauzi, Psikologi…, hlm. 119.

[19] Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru), hlm. 299-332.

[20] Ibid., hlm. 240.

[21]  Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa…, hlm. 80.

[22] Sudarwan Danim, Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 65.

[23] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar…, hlm. 117.

[24]Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 136.

[25] Abdul Rahman Shaleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Misi, Visi dan Aksi, (Jakarta:  PT. Gemawinda Panca Perkasa, 2000), hlm. 204.

[26] Ibid., hlm. 209-210

[27] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa…, hlm. 78.

[28] Hamdani Bakran Adz Dzaky, Konseling dan Psikoterapi…, hlm. 221.

[29] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm.125.

[30] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), hlm. 303.

[31]  Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 204.

[32] M.D Dahlan, Pendidikan Anak Menurut Islam, Kaidah-kaidah Dasar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 65.

[33] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa…, hlm. 73.

[34] Ibid., hlm. 75.

[35] Sri Wahyuni Tanshzil, Lingkungan Pondok Pesantren Dalam Membangun Kemandirian Dan Disiplin Santri, dalam Jurnal Penelitian, 2012, hlm. 12.

[36] Ibid., hlm 13.

[37] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam Kaidah-Kaidah Dasar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 1-162

[38]  Zakiah Daradjat, Pembinaan Remaja, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1976 ), hal. 28.

[39] Mohammad Ali & Mohammad Asrori, Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2006 ), hal. 9.

[40] Panut Panuju & Ida Umami, Psikologi Remaja, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005 ), hal. 29.

[41]  Sarlito W. Sarwono, Psikologi Remaja, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994 ), hal. 150.