Oleh: R Adji Suryo Utomo, S.Pd.

 

Seorang anak adalah buah hati yang lahir dari bertemunya hati dengan hati kedua orang tuanya. Tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya menderita. Termasuk soal pendidikan anak, orang tua tentu menginginkan yang terbaik. Tentu, itu karena pendidikan adalah kunci dari kehidupan. Apabila anak memperoleh yang terbaik, maka kemungkinan untuk anak hidup menjadi manusia yang baik akan tinggi. Bukan hanya baik, namun juga berguna bagi orang lain dan lingkungannya.

Dunia pendidikan khususnya pendidikan anak di seluruh dunia saat ini tengah menghadapi tantangan yang nyata. Kemajuan teknologi sedemikian rupa adalah sebuah keniscayaan, namun pandemic global covid 19 adalah hal yang tidak diduga oleh sebagian besar umat manusia. Semua orang ‘dipaksa’ untuk bukan hanya selangkah, bahkan bisa jadi 10 langkah lebih maju dari sebelumnya. Pendidikan yang diterapkan pun demikian, ‘dipaksa’ untuk lebih maju jauh daripada sebelumnya. Siapakah yang merasakan dampaknya? Tentu semuanya, baik masyarakat, orang tua, dan anak-anak.

Pendidikan Indonesia di masa pandemi memiliki strategi yakni dilaksanakan secara jarak jauh. Artinya, dapat dilakukan secara dalam jaringan (online/ daring) maupun luar jaringan (offline/ luring). Namun, apakah anak-anak merasa senang dengan cara tersebut? Dalam survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2020 lalu, penilaian siswa terhadap metode pembelajaran dengan sistem online. Hasilnya, 76,7 persen siswa mengaku tidak senang dengan metode PJJ. “Ternyata siswa tidak senang dengan pembelajaran jarak jauh. Angkanya cukup tinggi. Dari 1.700 (responden), ini 76,7 persen menyatakan tidak senang, ya. Hanya 23,3 persen menyatakan senang,” katanya.”Alasan senang pun, anak-anak itu mengatakan bahwa nggak perlu bangun pagi, nggak perlu pakai seragam. Itu rupanya sesuatu yang disenangi,” tutur Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan  (dikutip dari detikNews.com, 27/04/2020).

Dalam sebuah lagu anak-anak yang tentu kita ketahui liriknya bersama yakni “Disini Senang, Disana Senang, Dimana-mana Hatiku Senang” menjadi semangat untuk melaksanakan pendidikan yang menyenangkan. Kita belum berbicara hal yang muluk-muluk tentang kualitas ketercapaian tujuan pendidikan, namun dari sisi kesehatan mental sangatlah diperlukan pendidikan yang menyenangkan. Mengapa demikian? Karena anak-anak, orang tua, dan termasuk guru tentu telah menerima dampak pembelajaran jarak jauh. Misalnya, interaksi yang dibatasi bisa jadi membuat kondisi psikis anak maupun orang tua frustasi. Apabila pendidikan yang diharapkan menjadi kunci kehidupan malah menjadi memberatkan, maka anak-anak pastilah menjadi korban.

Pada akhir tulisan bagian pertama ini, kami mengajak pembaca untuk menyadari bahwa hal yang terpenting saat ini bukan sekedar menyampaikan materi, memindahkan isi buku paket untuk pembelajaran, mengerjakan dan mengumpulkan tugas. Hal yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan generasi dari mental illness atau gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh ironi pendidikan. Bagaimana caranya?

Bersambung…